PEMBERIAN
OBAT SUPOSITORIA
(REKTAL
DAN VAGINA)
DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK 11
v NOPPIE
MUDIARTI
v SISCA
PERMATA SARI
AKADEMI
KESEHATAN SWAKARSA JAKARTA
PROGRAM
D III KEPERAWATAN
JAKARTA
2012
Pemberian
Obat Supositoria (Rektal)
A. Pengertian Obat Supositoria Rektal
Bentuk obat supositoria rektal
berbeda dari obat supositoria vagina. Bentuk obat supositoria rektal lebih
tipis dan bulat. Bentuk obat yang ujungnya bulat mencegah trauma anal ketika
obat dimasukkan. Obat supositoria rektal mengandung obat yang memberikan efek
lokal, misalnya meningkatkan defekasi, atau efek sistemik, misalnya mengurangi
rasa mual dan menurunkan suhu tubuh. Obat supositoria rektal disimpan di dalam
lemari es sebelum diberikan.
Selama memberikan obat perawat harus
memasukkan obat supositoria melewati sfingter anal dalam dan menyentuh mukosa
rektal. Obat supositoria tidak boleh dipaksa masuk ke dalam massa atau materi
feses.
B. Tujuan Pemberian Supositoria
1. Memberikan efek lokal dan
sistemik.
2. Tindakan pengobatan ini disebut pemberian
obat supositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat.
3.
Menjadikan
lunak pada daerah feses dan merangsang buang air besar.
4.
Pemberian
obat ini diberikan tepat pada dinding rektal yang melewati sfingter ani
interna.
C. Indikasi
1. Mengobati gejala-gejala rematoid,
spondistis ankiloksa, gout akut dan osteoritis.
2. Untuk pengobatan konstivasi,
wasir.
3. Untuk efek sistematik seperti mual dan muntah.
D. Kontra Indikasi
1.
Hipersensitif
terhadap ketoprofen, esetosal dan ains lain.
2.
Pasien
yang menderita ulkus pentrikum atau peradangan aktif (inflamasi akut) pada
saluran cerna.
3.
Bionkospasme berat atau pasien dengan riwayat
asma bronchial atau alergi.
4.
Gagal
fungsi ginjal dan hati yang berat.
5.
Supositoria
sebaiknya tidak di gunakan pada penderita piotitis atau hemoroid.
6.
Pembedahan
rektal.
E. Pelaksanaan
1. Persiapan Alat
a) Supositoria rektal atau tube
salep dan aplikator salep
b) Catatan pasien dan daftar obat
pasien
c) Bantalan kassa ukuran 10 cm x
10cm
d) Sarung tangan
e) Pelumas dalam larutan air
f) Pilihan : pispot
2. Persiapan Pasien
a)
Menjelaskan
kepada pasien tujuan tindakan yang akan dilakukan.
b)
Memebritahukan
prosedur tindakan yang akan dilakukan.
c)
Beri
tahu pasien untuk tetap berbaring/miring selama kurang lebih 5 menit.
d)
Menutup
jendela, korden, dan memasang sampiran atau sketsel bila perlu.
e)
Menganjurkan
orang yang tidak berkepentingan untuk keluar ruangan.
3. Prosedur Tindakan
a)
Periksa
kembali order pengobatan mengenai jenis pengobatan waktu, jumlah dan dosis
obat.
b)
Siapkan
pasien
c)
Identifikasi
pasien dengan tepat dan tanyakan namanya
d)
Berikan
penjelasan pada pasien dan jaga privasi pasien
e)
Atur
posisi pasien dalam posisi sim dengan tungkai bagian atas fleksi ke depan
f)
Tutup
dengan selimut mandi, panjangkan area parineal saja
g)
Kenakan
sarung tangan
h)
Buka
supositoria dari kemasannya dan beri pelumas pada ujung bulatan dengan jeli,
beri pelumas sarung tangan pada jari telunjuk dan tangan dominan anda.
i)
Minta
pasien untuk menarik nafas dalam melalui mulut dan untuk merelaksasikan
sfingterani. Mendorong supositoria melalui spinter yang kontriksi menyebabkan
timbulnya nyeri
j)
Regangkan
bokong pasien dengan tangan dominan, dengan jari telunjuk yang tersarungi,
masukan supusitoria ke dalam anus melalui sfingterani dan mengenai dinding
rektal 10 cm pada orang dewasa dan 5 cm pada bayi dan anak-anak.
k)
Anak
supositoria harus di tetapkan pada mukosa rectum supaya pada pasiennya di serap
dan memberikan efek terapeutik
l)
Tarik
jari anda dan bersihkan areal anal pasien dcngan tisu.
m) Anjurkan pasien untuk tetap
berbaring terlentang atau miring selama 5 menit untuk mencegah keluarnya
suppositoria
n)
Jika
suppositoria mengandung laktosit atau pelunak fases, letakan tombol pemanggil
dalam jangkauan pasien agar pasien dapat mencari bantuan untuk mengambil pispot
atau ke kamar mandi
o)
Buang
sarung tangan pada tempatnya dengan benar
p)
Cuci
tangan
q)
Kaji
respon pasien
r)
Dokumentasikan
seluruh tindakan.
Pemberian Obat Supositoria (Vagina)
A. Pengertian Obat Supositoria Vagina
Obat vagina tersedia dalam bentuk
supositoria, sabun, jeli atau krim. Obat supositoria tersedia dalam bungkus
satuan dan dikemas dalam pembungkus timah. Penyimpanan di lemari es mencegah
obat supositoria padat berbentuk oval meleleh. Setelah obat supositoria
dimasukkan ke dalam rongga vagina, suhu tubuh akan membuat obat meleleh,
didistribusikan dan diabsorpsi. Setelah memasukkan obat, pasien mungkin
berharap untuk memakai pembalut perineum untuk menampung drainase yang
berlebihan. Karena obat vagina seringkali diberikan untuk mengobati infeksi,
setiap rabas yang ke luar mungkin berbau busuk.
B. Tujuan Pemberian Supositoria
vagina
1. Mengobati infeksi pada vagina
2. Menghilangkan nyeri, rasa
terbakar dan ketidaknyamanan pada vagina
3. Mengurangi peradangan
4. Indikasi dan
KontraindikasiTindakan pengobatan ini disebut pemberian obat supositoria yang
bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat
C. Indikasi
Vaginitis,
keputihan vagina dan serviks (leher rahim) karena berbagai etiologi, ektropia
dan parsio dan serviks. Servik sebagai hemoestasis setelah biopsy dan
pengangkatan polip di serviks, erosi uretra eksterna dan popiloma uretra
kondiloma akuminata. Luka akibat penggunaan instrument ginekologi untuk
mempercepat proses penyembuhan setelah electron koagulasi.
D. Kontra Indikasi
Jangan
diberikan pada orang yang mempunyai kecenderungan hipersensitif atau alergi.
E. Pelaksanaan
1. Persiapan Alat
a) Obat dalam tempatnya
b) Aplikator untuk krim vagina
c) Pelumas untuk supositoria
d) Sarung tangan sekali pakai
e) Pembalut
f) Handuk bersih
g) Perlak/pengalas
h) Gorden / sampiran
2. Persiapan Pasien dan Lingkungan
a)
Menjelaskan
kepada pasien tujuan tindakan yang akan dilakukan.
b)
Memeberitahukan
prosedur tindakan yang akan dilakukan.
c)
Menutup
jendela, korden, dan memasang sampiran atau sketsel bila perlu.
d)
Menganjurkan
orang yang tidak berkepentingan untuk keluar ruangan.
3. Prosedur Tindakan
a)
Jelaskan
prosedur yang akan dilakukan.
b)
Gunakan
sarung tangan.
c)
Buka
pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
d)
Bersihkan
sekitar alat kelamin dengan kapas sublimat.
e)
Anjurkan
pasien tidur dalam posisi dorsal recumbert.
f)
Apabila
jenis obat suppositoria maka buka pembungkus dan berikan pelumas pada obat.
g)
Regangkan
labia minora dengan tangan kiri dan masukkan obat sepanjang dinding kanal
vaginal posterior sampai 7,5-10 cm.
h)
Setelah
obat masuk, bersihkan daerah sekitar orifisium dan labia dengan tisu.
i)
Anjurkan
untuk tetap dalam posisi kurang lebih 10 menit agar obat bereaksi.
j)
Cuci
tangan.
k)
Catat
jumlah, dosis, waktu, dan cara pemberian.
Catatan:
apabila menggunakan obat jenis krim, isi aplikator krim atau ikuti petunjuk
krim yang tertera pada kemasan, renggangkan lipatan labia dan masukkan
aplikator kurang lebih 7,5 cm dan dorong penarik aplikator untuk mengeluarkan
obat dan lanjutkan sesuai langkah nomor 8,9,10,11.
Daftar Pustaka
Kusmiyati,
Yuni (2007). Keterampilan Dasar Praktik
Klinik Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.
Potter,
Patricia A. (2005). Fundamental of
Nursing: Concepts, Proses adn Practice 1st Edition. Jakarta: EGC.
Samba,
Suharyati. (2005). Buku Ajar Praktik
Kebidanan. Jakarta. EGC
Uliyah, Musrfatul. (2009).
Keterampilan Dasar Praktik Klinik.
Jakarta : Salemba Medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar